Menjadi peragu di saat-saat terakhir

Tak Berkategori

photo_2019-01-22_13-47-51Menentukan destinasi saat ada waktu kosong dan budget lebih untuk perjalanan merupakan hal yang menarik. Membandingkan, entah di sisi pemandangan, akses, estimasi budget, dan merangkai itinerary. Menggebu-gebu dan membuat kita selektif akan beberapa hal. Jika budget kita pas-pas-an, kita cenderung memilih lokasi yang dekat dengan durasi perjalanan yang singkat. Sebaliknya jika budget lebih, dan waktu yang tak terbatas, membuat kita sedikit longgar untuk menentukan pilihan.

Menyusun segalanya dengan matang hingga detail per item yang akan di bawa atau menjadi pejalan yang menyukai “kejutan-kejutan” karena tidak terpatok akan itinerary yang ‘”saklek” adalah salah dua pilihan bagi sebagian pejalan.

Mungkin gw merupakan perpaduan antara dua tersebut, saat masih jauh hari, semua harus tersusun secara detail, meminimalisir adanya kurang dan hal-hal yang berpotensi mengganggu perjalanan. Namun seiring mendekati hari keberangkatan, ada saja hal-hal yang menjelma sebagai duri yang membuat keinginan membatalkan perjalanan muncul begitu saja. hahaha

Mood berpengaruh banyak akan hal-hal yang kadang belum terjadi. Terlepas dari segala persiapan yang hampir matang, menipisnya keinginan tidak bisa di bendung untuk tidak datang.

Manusia, dengan segala keanehannya.

 

 

Iklan

Hallo, diriku di tahun 2019 :)

Tak Berkategori

yaah, sudah berganti saja tahun, menggulung semua yang terjadi di belakang dengan sekali lipat, semua sudah lewat.

tahun-tahun  yang berat, menanggalkan satu per satu  hal yang memberatkan, hela napas tak seberat dahulu, tidurpun perlahan tak begitu di hantui rupa dan ragam ketakutan impulsif, sangat berterima kasih dengan diriku saat ini, ataupun kelak.

setahun kebelakang, hibernasi dari hal-hal gempita duniawi kurasa sudah cukup, tahun ini, membahagiakan diri sendiri adalah hal primer, tidak usah muluk, beberapa destinasi saja sudah cukup, dan mencoba hobi baru mungkin, ah aku tidak sabar akan warna-warni di tahun ini.

cheers,

Pecandu kamu.

Tak Berkategori

Lalu rima dan sajakku berubah tuju, kamu merapikan segala jeda yang janggal.

Bertahun lalu mengenal, bertahun lalu temu dan tawa saling bersisian tanpa mengenal rindu dan candu.

Dua puluh lima di bulan delapan, aku melihatmu menjadi satu yang tak pernah ku temu, sosok baru, pelengkap haru.

Lalu satu persatu segala tentangmu menjadi candu, dan lalu debar ini perlahan tertuju padamu.

Rumpang

Tak Berkategori

Segala tentang Ayah memenuhi pikiran dengan setangkup rindu yang penuh dan utuh.

Berjarak dengan satuan yang tak mampu di tempuh, jauh, amat jauh.

Segala tentang Ayah menjadi keganjilan yang tak sanggup di genapkan setelah kepergian.

Berjarak dengan untaian doa dan tangisan lirih di kala rinduku penuh.

 

 

Kota Solo = Tabungan Rindu

Tak Berkategori

Tahun 2015, seingatku pertama kali ke kota itu, Solo. Berawal dari perkenalan dengan sebuah komunitas, Sodara Di Atas Awan, atau yang biasa kami singkat dengan SODA. Pertama kali bertemu beberapa orang di dalamnya saat aku hendak mendaki Gunung Prau dan Gunung Sindoro pada Juni 2014, pertemanan pun berlanjut, membawaku ke kota itu dengan tujuan mendaki Gunung Merbabu.

Berbekal libur hanya dua hari, sabtu dan minggu, dan sedikit kenekatan, perjalanan jumat malam menuju Kota Solo, lalu sampai disana sabtu siang, sedikit merapikan barang bawaan dan berbelanja logistik, dengan motor kami bergegas menuju basecamp pendakian.

Jalur pendakian Gunung Merbabu yang kami pilih adalah jalur selo, berdekatan dengan Gunung Merapi. Bona, Agus dan Irfan, kami berempat mengawali pendakian selepas kumandang adzan ashar. Cuaca cukup bersahabat dengan kaki-kaki kami yang lambat. Membawa kami perlahan menyeruak kabut sampai di Pos 3, tempat kami mendirikan camp sebelum esok hari menuju puncak Kenteng Songo.

Pos 3 jalur selo menjadi saksi hilangnya sepatuku, lucu saat di ingat ketika hendak mendaki ke puncak, kami sibuk mencari sepatuku yang raib entah kemana. Alhasil, sendal menjadi alas kaki pengganti sepatu yang hilang.

Perjalanan turun pun “agak sedikit gila”, aku yang terbiasa turun pelan-pelan seakan di paksa untuk ugal-ugalan, lucu memang, dengan sendal dan rok, lalu melakukan perjalanan turun gunung dengan sedikit berlari. Walau sudah kebut-kebutan, naasnya, aku tertinggal kereta yang akan membawaku kembali ke Jakarta.

Merbabu kala itu, membuat rasa ingin kembali, lagi dan lagi. Bukan hanya menyoal destinasi, tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Maka dari itu, merepetisi tujuan bukan hal yang asing bagiku, karena tempat yang sama akan menawarkan cerita baru dengan orang yang sama maupun yang baru.

Solo dan orang-orang di dalamnya, membuat sekumpulan rindu yang seringkali menggebu. Menunggu waktu hingga kembali di singgahi dan kembali menabung rindu, lagi dan lagi.

 

 

Bentuk lain mencinta.

Tak Berkategori

Menempatkanmu di sudut hati, tidak ingin terusik dengan hal remeh tentang memulai suatu hubungan lebih denganmu, membuatku begitu ikhlas mencinta. Membuatku begitu nyaman hanya dengan bersama, melihat, dan merasa bahwa kamu akan terus ada.

Menempatkanmu di sela doa-doaku kepada Rabbku, mengikhlaskan akan segala takdir yang mempertemukan, membuat terus menerus bertemu dan bertatap, berbagi tawa dan canda, hanya menunggu hari dimana akan bertemu lagi dan lagi, membuatku merasa cukup dan mencukupkan diri hanya sampai di titik ini.

Menempatkanmu di daftar teratas hal yang membuatku bahagia, meniadakan kecemasan akan hal-hal yang tak perlu, meniadakan sendu-sendu yang tak perlu, menyingkirkan bayang-bayang lalu yang semu, merupakan salah satu berkah untukku yang tak ingin berlalu dengan cepat, yang inginku nikmati lambat-lambat.

 

ps : ku tulis ini, untukmu, dengan memperhatikan gerak gerikmu 🙂

Aku hanya ingin untuk bisa pergi : Darimu

Tak Berkategori

Setiap kali berkemas, aku selalu berharap bahwa ada separuh kenangan yang tidak muat dalam kepalaku. Tertinggal tanpa perlu kucari kembali. Lalu aku berharap bahwa yang hilang adalah segala tentangmu, juga kesedihan-kesedihan yang mahir merawat air mataku. Tetapi, aku memang tidak pernah pintar memilah-milah dan kepalaku masih terlalu luas untuk menampung seluruh tentangmu.

Setiap malam aku bermain dengan ingatan. Memilih satu demi satu untuk kutuliskan. Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku tidak bisa berhenti.

Seringkali aku menyadari ada sesuatu yang salah. Bahwa aku masih menyukai menatap layar chat bertuliskan namamu, walau tak ada pesan yang aku terima darimu. Bahwa aku masih seringkali memutar lagu kesukaanmu, lalu perlahan meneteskan air mata. Aku tahu ini salah. Aku tidak bisa berhenti. Tidak tahu caranya berhenti. atau mungkin, aku memang tidak ingin berhenti: menyakiti diriku sendiri.

Setiap kali bercermin, aku bertanya pasa seseorang bermata sayu di hadapanku. Apa yang salah? Apa yang membuatmu pergi? Apa yang membuatku terus bertahan untuk tidak melupakanmu. Dan perempuan dalam cermin itu selalu diam, ia tidak memiliki jawaban. matanya seperti sebuah spion, hanya bisa melihat kebelakang. ia lupa cara berjalan, ia lupa cara melangkah, ia jauh tertinggal dari dirimu sekarang.

Suatu pagi, aku menemukan diriku seperti sebuah mayat, yang tidak lagi memiliki apa-apa. Aku berdiri di jendela lalu menatap hampa ke luar, aku melihat dengan jelas bagaimana dulu kita pernah berjalan berdua, kita tertawa bersama. Lalu, kepergianmu hari itu melintas kembali di sana, masih kuingat segalanya dengan detail, bahwa tidak sekalipun dirimu menoleh kembali padaku yang menahan isak tangis di pintu. bahwa tidak sekalipun kamu memperlambat langkah untuk akhirnya mengasihani dan kembali lagi padaku.

Ini salah. aku harus berhenti. ya, hari ini. saat ini. aku ingin kau tahu bahwa aku telah berhenti untuk mengharapkanmu. Aku telah berhenti untuk melukai diriku sendiri. dan aku berharap bahwa di hari ini kau ada, melihatku pergi dengan mengamas apa saja yang aku miliki, kecuali kamu. Aku ingin kau melihatku melangkah dengan begitu yakinnya memunggungimu. Kelak, suatu malam, ketika aku rindu menuliskan sebuah kisah dalam ingatan, kamu tak akan pernah lagi menjadi pemeran.

(Kita) Tidak Pernah Sepakat

Tak Berkategori

Kita pernah saling jatuh cinta, saling ingin membahagiakan, juga saling ingin melengkapi, dan itu bukanlah suatu hal yang telah direncanakan sebelumnya.

Bila pada akhirnya kita saling menghindari, saling menyakiti, dan saling ingin melupakan, itu juga bukanlah hal – hal yang telah kita rencanakan jauh-jauh hari.

Kita tidak pernah sepakat untuk saling jatuh cinta kemudian meninggalkan, tetapi kau dan seluruh yang kau lakukan telah menjadi sepaket yang menyesakkan.